Pekan Tuli Internasional 2024 kali ini bertema “Tunjukkan isyaratmu! dukung hak bahasa isyarat“. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan Hari Bahasa Isyarat Internasional berdasarkan Resolusi A/RES/72/161.
Ketersediaan bahasa isyarat sangat penting sebagai hak dasar komunitas Tuli karena merupakan sarana komunikasi utama yang memungkinkan partisipasi penuh dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi. Tanpa akses ke bahasa isyarat, anggota komunitas Tuli menghadapi hambatan dalam berinteraksi dengan orang lain, memperoleh informasi, serta mengakses pendidikan dan layanan publik.
Jenis Bahasa Isyarat
Bahasa isyarat memiliki variasi yang beragam di seluruh dunia, dan setiap negara atau wilayah biasanya memiliki bahasa isyaratnya sendiri. Berikut adalah beberapa jenis-jenis bahasa isyarat yang populer:
American Sign Language (ASL)
Bahasa isyarat yang digunakan oleh komunitas Tuli di Amerika Serikat dan sebagian Kanada. ASL memiliki tata bahasa dan struktur yang berbeda dari bahasa Inggris, dan diakui sebagai bahasa penuh dengan leksikon dan tata bahasa tersendiri.
British Sign Language (BSL)
Bahasa isyarat yang digunakan di Inggris Raya. BSL berbeda dari ASL, terutama dalam hal tata bahasa dan tanda-tanda yang digunakan. Ini merupakan bahasa yang berdiri sendiri dengan tata bahasa yang kompleks.
Langue des Signes Française (LSF)
Bahasa isyarat yang digunakan di Prancis. LSF memiliki pengaruh besar dalam perkembangan ASL, karena pendiri ASL, Thomas Gallaudet, belajar LSF dan mengadopsi sebagian struktur isyaratnya.
Australian Sign Language (Auslan)
Bahasa isyarat yang digunakan oleh komunitas Tuli di Australia. Auslan memiliki pengaruh dari BSL, tetapi berkembang secara mandiri dengan perbedaan lokal.
Japanese Sign Language (JSL)
Bahasa isyarat yang digunakan oleh komunitas Tuli di Jepang. JSL memiliki tata bahasa yang berbeda dari bahasa Jepang lisan dan menggunakan sistem tata bahasa visual yang unik.
International Sign (IS)
Sebuah sistem komunikasi isyarat yang digunakan dalam pertemuan internasional dan oleh organisasi global seperti World Federation of the Deaf. IS bukan bahasa isyarat alami, melainkan gabungan dari beberapa bahasa isyarat untuk memungkinkan komunikasi lintas negara.
Bahasa Isyarat di Indonesia
Bahasa isyarat yang diadopsi Indonesia memiliki dua jenis, yaitu Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI). BISINDO adalah bahasa isyarat yang digunakan oleh sebagian besar komunitas Tuli di Indonesia. Meskipun ada bahasa isyarat lain seperti Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI), BISINDO lebih umum digunakan karena berkembang secara alami di kalangan masyarakat Tuli.


Perbedaan utama antara BISINDO dan SIBI adalah bahwa BISINDO lebih merupakan bahasa alami yang berkembang berdasarkan kebutuhan komunikasi komunitas Tuli, sementara SIBI lebih formal dan menggunakan pendekatan berbasis tata bahasa Indonesia. SIBI dibuat oleh pemerintah dan lebih banyak digunakan di sekolah-sekolah untuk pendidikan Tuli.
Bisindo menggunakan dua tangan untuk merepresentasikan satu huruf, sedangkan Sibi cukup menggunakan satu tangan, seperti American Sign Language (ASL). Misalnya, ketika menerjemahkan huruf A, Sibi merepresentasikan dengan menggenggam atau mengepalkan tangan. Sementara itu, dalam Bisindo, untuk merepresentasikan huruf A, penutur perlu membentuk bangun segitiga dengan menautkan ujung jari telunjuk dan jempol tangan kanan dengan ujung jari telunjuk dan jempol tangan kiri (tempo.co).
Saat ini, komunitas Tuli di Indonesia mendorong lebih banyak penggunaan BISINDO dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pendidikan, media, dan layanan publik, karena dianggap lebih representatif dari identitas dan budaya mereka.
Sejarah bahasa isyarat internasional adalah sejarah perjuangan dan kemenangan komunitas Tuli di seluruh dunia. Dari marginalisasi hingga pengakuan global, bahasa isyarat kini dianggap sebagai bagian integral dari keberagaman linguistik dan budaya. Dengan pengakuan resmi dan meningkatnya kesadaran global, bahasa isyarat terus berkembang dan membuka pintu untuk komunikasi yang lebih inklusif bagi semua orang.
