Ilustrasi mengenai caption pada video.

Caption di Video untuk Tuli

Penggunaan video sebagai medium pembelajaran memiliki banyak peran dewasa ini. Dengan satu klik pada tautan tertentu, pelajar atau mahasiswa dapat mengakses video langsung dari mana pun mereka berada. Sayangnya, seringkali video yang digunakan tidak disertai dengan caption, baik closed maupun open caption.

Kenyataan tersebut sama ironisnya dengan ketidaktaatan beberapa stasiun televisi yang tidak memenuhi ketentuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang berkaitan dengan hak untuk memperoleh informasi augmentatif bagi semua orang. “Semua orang” dalam terma ini mengandaikan ketidakterbatasan segmen pemirsa yang menonton, termasuk Tuli, yang bukan Tuli, atau penyandang disabilitas sensorik lainnya dengan berbagai tingkatan. Jika bayangan pemirsa tersebut adalah pada semua segmen, maka menyediakan caption pada setiap video adalah hal yang niscaya.

Di ranah pendidikan, penggunaan video berkenaan langsung dengan penyampaian maateri pembelajaran. Sejak Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mencanangkan kampus inklusif bagi semua orang, keberadaan caption pada video sebagai medium pembelajaran atau persebaran informasi juga menjadi kewajiban. Meski dalam UU Nomor 8 Tahun 2016 tidak tertera secara langsung bahwa mahasiswa atau siswa Tuli harus disediai penerjemah Bahasa Isyarat di sekolah atau di kampus, namun poin pada undang-undang tersebut sudah mengatakan secara intrinsik.

Bilamana penerjemah Bahasa Isyarat tidak tersedia dalam video tersebut, maka caption dalam rupa teks harus menjelaskan isi pembicaraan yang berupa audio. Bahkan, efek suara bukan ujaran yang berkaitan dengan konteks yang tertera secara visual juga harus terjelaskan dalam caption, misalnya suara hembus angin pada video yang berisi materi pembelajaran tentang meteorologi dan geofisika. Sederhananya, apapun yang masih dalam bentuk suara sebisa mungkin ter-caption-kan dalam video.

Closed dan Open Caption

Caption adalah teks yang muncul di layar yang menjelaskan isi video dan juga berfungsi menggantikan peran suara untuk menyampaikan pesan. Caption juga bisa berupa penjelasan tentang identitas pembicara dan penjelasan mengenai suara yang memiliki relevansi dengan isi video. Caption tersinkronisasi dengan apa yang tampil secara visual di video, sehingga penonton dapat mendengarkan dan membaca caption sekaligus. Dengan demikian, penyandang disabilitas sensorik baik tunanetra maupun Tuli dapat mengakses video tersebut.

Ada dua macam caption, yaitu Closed Caption dan Open Caption. Open Caption tidak bisa dihidup-matikan, terintegrasi dan melekat pada video, dan akan ikut mengecil apabila file video dikompres ke bentuk yang lebih kecil atau ekstensi lain. Sedangkan Closed Caption dapat dihidup-matikan sesuai keperluan penonton. Open Caption dicantumkan di video bersamaan dengan ketika video tersebut diedit, sedangkan Closed Caption dapat dipasang setelah video selesai diproses dan siap ditayangkan. Contoh yang paling kentara pada Closed Caption adalah yang dipasang di YouTube pada pilihan CC (yang merupakan singkatan dari Closed Caption itu). Pada aplikasi media sosial lain semisal Instagram dan IGTV, Closed Caption tidak disediakan sehingga video yang diunggap di Instagram atau IGTV harus menggunakan Closed Caption.

Dari segi media pemutar video, Closed Caption membutuhkan pemutar yang mendukung, semisal VLC Player atau GOM Player. Di YouTube, Closed Caption kadang harus disetting terlebih dahulu. Sedangkan pada televisi, Closed Caption membutuhkan decoder yang dapat membaca dan menampilkan teks caption tersebut. Decoder ini kadang sudah terpasang pada televisi masa kini seperti pada televisi cerdas (smart-tv).

Memasang Closed Caption pada video harus menyertakan cara mengaktifkan caption tersebut, baik itu di televisi atau perangkat lunak lainnya. Itulah mengapa banyak pemirsa video yang lebih memilih Open Caption ketimbang Closed Caption. Open Caption mengasumsikan bahwa ia mengandung desain universal yang diusung Konvensi HAM secara umum, karena ia bermanfaat bukan hanya pada Tuli, tapi juga pada pemirsa asing dan orang di tempat yang riuh yang tidak memungkinkan untuk mendengar suara pada video. Sayangnya, penerjemahan pada Open Caption tidak dapat dilakukan sebagaimana pada Closed Caption. Selain keuntungan yang tersimpan dalam Open Caption, ada pula kekurangannya. Open Caption merupakan bagian dari video secara langsung, sedangkan Closed Caption terspisah dari video sehingga lebih fleksibel pada berbagai pemutar video dan tidak mengecil ketika video dikompres.

Dengan kelebihan dan kekurangan pada Open dan Closed Caption ini, penting bagi pemproduksi video untuk mengevaluasi penggunaan video tersebut dan sejauh mana ia dapat dipahami oleh pemirsa. Contohnya, pada sebuah video tutorial yang ditujukan pada penyandang disabilitas atau audiens secara luas atau pada pelaksaan konferensi yang bising, Open Caption mungkin lebih bermanfaat. Meski demikian, pertimbangan tersebut harus juga mengukur seberapa mungkin caption tersebut dapat diakses ketika ditonton dan disunting ketika ada kekeliruan. Yang lebih penting lagi dari pertimbangan-pertimbangan di atas adalah mempertimbangkan pemirsa dan ketersampaian pesan dari video tersebut.

Written by mahallihn

Beraktivitas di Pusat Studi Pesantren dan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.